Posted on May 2, 2008 by FraterTelo
Sebuah berita duka datang dari pusat keramaian kota Yogya. Kamis, 1/5/2008, seekor kuda betina mati di Jalan Malioboro. Diduga kuda naas itu mati karena terlalu lelah menarik andong yang dipakai wisatawan keliling Malioboro dan Keraton. Si pemilik kuda bernama Pak Sutarso, warga desa Bangunharjo, Bantul mengungkapkan bahwa tiba-tiba kudanya terjatuh dan menggelepar-lepar sampai-sampai andong yang ditarik oleh kuda itu nyaris ambruk.
Sesaat kemudian pak kusir turun dan semampu daya memberikan pertolongan. Sontak orang-orang di sekitar yaitu para penarik becak dan kusir andong juga berbondong memberikan pertolongan. Satu persatu tali kekang kuda dilepas. Terlihat kuda sangat kesakitan. Berkali-kali dia meringkik sembari kakinya menendang-nendang. Kuda juga mengeluarkan air kencing dan kotoran. Sungguh pemandangan sakratul maut yang mengibakan. Lantas sang kusir dan beberapa orang memberikan pertolongan. Ada yang memijat-mijat kakinya, ada yang menggosokkan beberapa botol minyak kayu putih di bagian hidung, leher, perut dan dada kuda.
Namun upaya itu tidak mampu menolong sang kuda. Dan sekitar pukul 13.00 WIB, sang kuda sudah tidak bernapas lagi. Dia mati. Ada orang yang berinisiatif untuk menutupi kepala kuda itu dengan selembar koran. Kuda mati menjadi tontonan warga dan pengunjung Malioboro.
Begitu menyesakkan kematian kuda ini bagi Pak Sutarso, apalagi kudanya saat itu sedang bunting 7 bulan. Lantas kenapa tahu kalau kuda bunting kok masih dipakai narik andong Pak? Lha kalau saya tidak narik, lantas keluarga saya mau dikasih makan apa mas? Kuda ini satu-satunya penghidupan saya.
Kisah ini sungguh memilukan bagi saya. Bagaimana kesan Anda?
Filed under: Reflection | Tagged: berita duka, malioboro | 39 Comments »
Posted on May 2, 2008 by FraterTelo
Benar memang bahwa tanggal 01 Mei kemarin diperingati sebagai Hari Buruh Sedunia. Kendati kata “buruh” kadar rasanya sangat negatif namun toh tetap digunakan sampai sekarang. Dan ternyata itu menunjukkan kepada kita bahwa nasib buruh atau pekerja masih saja sengsara. Sebuah media elektronik menulis bahwa Kota Jakarta seolah dikepung para buruh yang datang dari berbagai wilayah, termasuk daerah sekitar Ibu Kota. Sejak Kamis (1/5) pagi hingga petang, ribuan buruh berdatangan ke Jakarta. Mereka berunjuk rasa memperingati Hari Buruh Sedunia atau populer disebut May Day. Kaum buruh mendesak pemerintah dan pengusaha agar menghapuskan sistem kontrak dan outsourcing (sistem kontrak melalui pihak ketiga), serta menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional. Tuntutan lain adalah kenaikan upah dan penurunan harga berbagai kebutuhan pokok.
Tanggal merah 01 Mei 2008, bukan dalam rangka memperingati hari buruh namun kenaikan Yesus Kristus. Jadi tuntutan untuk menjadikan tanggal 01 Mei sebagai hari libur nasional tentu akan masih menggema di May Day tahun depan. Gemanya bersama dengan tuntutan yang lain yang sebenarnya refrain dari tahun ke tahun.
Mungkinkah tidak ada lagi sistem kontrak dan outsourcing di dunia industri? Rasanya sangat sulit. Bahkan trend sekarang banyak perusahaan yang malah mengoutsourcekan tenaga kerjanya. Tidak hanya level staf atau clerek namun level-level supervisor dan manager juga mulai kena outsourcee. Buruh menolak sistem ini karena sistem ini menjauhkan hubungan (personal dan industrial) mereka dengan pemberi kerja/tempat mereka kerja. Buruh dianggap seperti “mesin” lagi, yang sewaktu-waktu dapat diganti, dipindah, dibuang. Contoh konkritnya begini, ketika user (pemakai tenaga outsource) tidak suka lagi dengan buruh tertentu maka dengan enteng dia akan meminta kepada perusahaan outsourcing untuk mengganti buruh itu. “Saya minta yang lain?”. Disinilah masalah itu timbul. Sementara di satu sisi memang buruh tidak punya bargaining power lantaran kompetensi mereka yang pas-pas-an, bahkan tak sedikit yang hanya mengandalkan otot saja untuk bekerja.
Praktis memang sistem ini bagi pengusaha! Oleh karena itu, pengusaha tentu suka dan sekarang sudah menjadi trend. Yang dibenci pekerja disukai pengusaha. Piye iki? Dari dulu memang tidak pernah ketemu!
Kalau tuntutan macam hapuskan tenaga kontrak dan outsourcing! Naikkan gaji! Turunkan harga! Sudah tidak dihiraukan lagi!
Menurut Anda tuntutan apa yang seharusnya didemokan oleh para buruh?
Note: gambar colongan dari http://www.liputan6.com/sosbud/?id=158744
Filed under: Reflection | Tagged: hari Buruh 2008, May Day | 17 Comments »
Posted on April 30, 2008 by FraterTelo
Besuk, tanggal 01 Mei 2008 akan dirayakan sebagai Hari Buruh Sedunia. Ada aksi yang bakal di gelar di jalan ibu kota. Ada yang mau terlibat? Sutrisno Sastro Miharjo (Ketua Umum SBI – Jabodetabek) mengajak:
May Day harus dijadikan agenda aksi bersama seluruh rakyat pekerja (buruh, tani, nelayan, pekerja hukum, pemuda, pengangguran, perempuan, sektor informal dan lain-lain) berserta para mahasiswa dan pengusaha kecil yang nasionalis, demokratik, dan populis, sebagai ajang konsolidasi nasional, konsolidasi demokrasi, dan konsolidasi kerakyatan.
Dan terkait dengan hal itu, maka kami dari Serikat Buruh Indonesia dan kawan-kawan gerakan rakyat yang tergabung dalam Gerak Lawan akan melakukan aksi massa di 13 provinsi secara serentak. Serta menyerukan kepada segenap penduduk Jakarta untuk berbondong-bondong turun ke jalan pada:
Hari : Kamis, 1 Mei 2008
Waktu : Pukul 09.00 WIB – Selesai
Tempat : Mesjid Istiqlal – Istana Negara RI.
Yang mau ikut turun ke jalan, pesen ya: tetep damai, no anarki! no drug!
Kalau ada hari buruh, apakah ada hari pengusaha? atau benerkah 01 Mei adalah hari buruh?
Filed under: Reflection | Tagged: May Day | 15 Comments »