Tiba-tiba saja, temanku berkata, “Tin, aku lagi bosan dengan isteriku.”
“Kemarin malam, aku sudah bilang pada isteriku, aku lagi bosan, kita jalan sendiri-sendiri dulu.”
Tiba-tiba saja, aku tak tahu apa yang harus aku katakan.
Aku kaget saja, dengan ungkapan “bosan pada isteri”.
Lantas, temanku itu melanjutkan, “Tar kalau kamu sudah punya bini, bakal tahu juga, kalau udah married enam bulan, rasanya udah biasa aja. Beda banget dengan ketika masih pacaran”.
“Ibaratnya nih, liat dia telanjang aja udah kagak nafsu lagi”, kata temanku dengan sedikit tertawa.
Aku bertanya padanya, “Lha maksudmu jalan sendiri-sendiri apa dab?”
“Kalau biasanya jalan-jalan bareng, sekarang sendiri-sendiri,
Aku biasanya kumpul-kumpul dan jalan dengan teman-temanku saja,
Biniku juga aku bebaskan, mau jalan sama siapa.” jawab temanku.
“Kowe selingkuh dab?” tanyaku karena aku berpikir, mungkin karena inilah banyak terjadi perselingkuhan dan tak jarang perceraian. Perselingkuhan karena kebosanan. Kebosanan pada suatu yang sudah rutin. Ya, ketika sesuatu sudah menjadi rutinitas, maka bahaya kebosanan akan muncul .
“Kalau soal selingkuh, aku tidak pernah, Tin. Masalahnya bukan soal seks, tapi soal rasa bosan dengan rutinitas”, jawabnya yang ternyata membenarkan yang aku pikirkan soal kebosanan pada rutinitas.
“Tar kalau sudah tidak bosan ya seperti biasa lagi, jalan bareng lagi”, lanjut temanku.
Cerita temanku mungkin saja tidak dialami semua pasangan yang menikah. Tapi paling tidak ada pasangan yang mengalami hal serupa. Kebosanan pada rutinitas kehidupan berumah tangga. Aku bersyukur karena ada teman yang bercerita padaku tentang pengalamannya berumah tangga.
Di lain kesempatan, seorang teman (ibu) juga menceritakan bagaimana dia membuat kehidupan rumah tangga supaya selalu baru dan tidak rutin.
Temanku itu sharing kalau selama menjadi isteri dia berusaha berperan bukan hanya ganda, tapi triple. Perannya adalah sebagai teman, ibu, dan pelacur. Sebagai teman, karena suami butuh saat-saat ketika mereka ingin berbagi dan didengarkan. Sebagai ibu, karena suamipun kadang seperti anak kecil, yang pengin dimanja. Sebagai pelacur, tentu harus bisa melayani suami di tempat tidur. Supaya suami tidak bosan maka dia berusaha untuk bikin kejutan entah sebagai teman, sebagai ibu, maupun sebagai pelacur bagi suaminya. [aku agak risi ketika mendengar kata pelacur, tapi karena dia sharing ya aku tidak protes istilah itu, aku paham apa maksudnya]. Membuat sesuatu tidak rutin dalam rumah tangga, membuat kejutan-kejutan untuk pasangan adalah penting untuk membuat rasa bosan tidak menghinggapi kehidupan rumah tangga. Beruntung sekali aku punya teman yang selalu mau berbagi.
Filed under: Reflection | Tagged: rumah tangga

rutinitas memang membosankan Ter.
Tapi kalo semua orang lantas jadi bosan terhadap pasangannya, sudah bener-bener semrawut dunia ini..
mungkin karena banyak orang menikah karena kecantikan fisik semata..
dulu saya pernah baca di sebuah buku (lupa bukunya):
“Dasar dari pernikahan itu bukan apa yang akan kita dapatkan, tapi kesiapan kita memberi. Kalau kita ingin menikahi seseorang karena dia sanggup melindungi kita, nikah aja sama Satpam. Kalo kita kita menikah karena dia pintar masak, nikahi aja koki. Namun, jika kita siap memberikan waktu, tenaga, perhatian kita kepada seseorang, maka kita siap menikah dengan orang tersebut…”
Kalo kayak gitu masih bisa bosan nggak ya?
hehehhe nggak tau deh
Untuk memerangi kebosanan pada rutinitas berumah tangga mestinya menjadi tanggung jawab berdua. Jangan hanya menuntut perempuan menjadi teman, ibu, dan pelacur. Tapi suami juga harus rela jadi sahabat, ayah, dan gigolo (masya allah…) buat istrinya. Jadi balance. Kalo hanya sepihak yaa… gak seru!
Intinya sering komunikasi dari hati ke hati, apa yg diinginkan suami ato istri. Kalo gak terbuka hanya mengharap “istri harus ngerti” ato sebaliknya ya rawan perselingkuhan.
Apapun, perselingkuhan bukan jalan keluar tapi jalan menuju kehancuran.
hubungan suami istri harus mau tumbuh dan berkembang seiring kebutuhan yang ada. kalau statis aja, tentu penyakitnya ya kebosanan, dan itu bisa menyerang kedua belah pihak.
menikah akhirnya seperti satu dari sekian banyak seni dalam hidup ini. seperti melukis bumi dan mewarnai langit. hehehe
kalau dianalogikan dengan dunia kerja, berarti suami istri kawan Mas itu mengambil cuti di luar tanggungan hehehe….Bedanya, mereka masih “ngantor”, tapi tidak “kerja”.
Kiat yang menarik namun mencemaskan. Kapan kita belajar melakukan hal-hal yang tak disukai, yang merupakan ujian komitmen, tanggung jawab dan kesediaan berkorban; kalau setiap kali suntuk dengan pasangan kita boleh “cuti” ?
Saya pikir, sebenarnya apa yang mendasari suatu Hubungan Suami Istri??
Menurut aku dasar suatu hubungan suami Istri adalah suatu Komitmen, bukan Perasaan dan emosi.
Apapun perasaannya, Komitmen tetap harus dilakukan, dan dijalankan sebagai mana mestinya. Mungkin pertama akan terasa ‘kok munafik’ dan ‘rutinitas’. Tapi sejujurnya cinta yang sejati akan timbul dengan cara begitu, saat semua emosi dan kesenangan dah ga ada, yang ada tinggallah Cinta Kasih, Ketergantungan, dan Kesetiaan.
Manusia memang bisa bosan, itu alamiah.
Tapi kalo bosen ama Istri, trus jadi ga mau lagi deket-deket ama dia..waah itu salah ah! Kecuali karena satu dan lain hal, suami dan istri diperkenankan berjauhan SESAAT saja, untuk agar masing2 mendekatkan diri pada Tuhan. Tapi tentu saja itu harus di cover ama pembimbing rohani, sambil masing-masing menjaga diri dan hati. he..he…
Komitmen itulah yang sekarang sudah ditinggalkan banyak kalangan, yang populer adaalah: I having married, cause i got “chemistry” with her.
O LORD, what a broken world!
@*hari
Mas Hari yang baik, rutinitas memang membosankan, benar apa kata mas Hari. Dan bener juga kalau banyak orang yang menikah hanya karena ingin menikmati kecantikan/kegantengan yang dinikahinya. Lha aku saja juga gitu mas, masih pacaran ya pinginnya cari pacar yang cantik, minimal Dian Sastro-lah.
@darnia
Suka sekali ya baca buku, tapi kok lupa…. ah gak pa2, yang penting ingat isinya. Apalagi kalau diaplikasikan weh, tambah bijaksana.
@chocovanilla
Betul bu, harus seimbang. Besuk saya akan berusaha jadi gigolo (masya allah) yang baik untuk isteri saya.
@menggugat mualaf
saya suka dengan ekspresi “seperti melukis bumi dan mewarnai langit”. artinya apa ya?
@robert manurung
betul bang, orang hendaknya belajar menghadapi sebuah realita, tidak lari dari realita. apalagi pelarian sesaat dan sesat.
@yudhi gejali
ya komitmen, itu kata kuncinya bos. memang tak mudah untuk setia pada sebuah komitmen. apalagi saat kenyataan tak sesuai dengan harapan. banyak orang pingin lari dan jajan. hidup komitmen. hidup cinta kasih!
Hehehe… dinikmati saja.
Tapi ceritanya kok kayaknya egois banget. Suaminya yg bosen terus minta jalan sendiri-sendiri. Terus menuntut supaya istri bisa menjadi 3 lakon. Padahal istri pun juga punya rasa bosan loh.
Coba si suami yg menjalani 3 lakon itu, yaitu: teman, ayah dan gigolo.
(** Kabur **)
Eh, rupanya komenku tentang 3 peran pria sama dengan Mbak Chocovanilla. Hehehe… aku ndak nyontek loh.
(** Kabur lagi setelah membaca komen2 **)
lapor Frater : pesenan tulisan tentang Fernando Lugo sudah tersedia (total 4 artikel).
silakan periksa.
laporan selesai!
@Emanuel Setio Dewo
secara, saudara jadi bisa sama lah.
tks atas masukannya.
@Robert Manurung
Mauliate bung!
tulisan yang menarik
salam hangat salam semangat
lho ma istri kok bosen..he2..nice artikel..sukses aja dah pokonya…..salam knal yah
wah janji nikahnya di tambah dalam suka dan duka dalam bosan dan tidak bosan………
kabuuuuuuuuur.
hehehehe…
hilang yah manisnya janji waktu pacaran dulu…
emang dasar!!!
wakakakak
ya ampuuunn…
heran juga bacanya.. -maklum, blm nikah, jadi gak tau rasanya-
hooiii.., aku ingatkan lo ya pada kita laki2…
menurut data yang ada, jumlah perceraian di indonesia meningkat loo. dan yang perlu diwaspadai, isteri menggugat cerai 68 % dari jumlah perceraian dan didominasi oleh Surabaya; 80 % dari jumlah perceraian adalah gugat cerai dari isteri…
ati2, ntar elo diceraikan oleh bini lo .. ha ha ha
http://rapmengkel.wordpress.com
wuuuuhhhh kalimatnya itu lo…
padahal jan-jannya istrinya lebih bosen ke dia….
Berat … Berat …
Di Pacaran saja diriku sekarang sedang merasakan itu, lalu bagaimana di saat nikah yang seumur hidup?
Tapi, disaat bosan2nya ini, saya kok masih ingin ketemu dia ya
Om Edy, I’m back, dangu mboten dolan riki …
Pulang kampung yuk …
Lam kenal Frater…
Maaf nyelonong masuk tanpa kulonuwun…
Mau ikutan sumbang saran aja nih
….menurut saya sih…
kadang kita lebih mengedepankan kuantitas daripada kualitas
‘jam terbang’ sebagai suami istri gak terlalu penting selama kita bisa jaga kualitas relationship.
kalo tiap hari ketemu…dan selalu akan ketemu…apalagi udah hapal ritme ketemunya sih jelas pasti akan jenuh.
get away from comfort zone, try something new
misalnya biasa pulang kantor langsung ke rumah…sekali2 janjian ketemu di tengah2 entah di cafe atau resto
biasanya pulang bareng sekali2 naek angkot bareng
kalo dari pengalaman saya sih ( kebetulan pernah jenuh juga ). saya dan istri selalu sebisa mungkin dapet cerita baru setiap hari pulang kerja. berbagi cerita, diskusi hal2 baru adalah sesuatu yang akhirnya jadi ‘penantian’ kami setiap hari.
hehe…kebetulan kami koq ya lebih sering ngabisin waktu bareng dengan ngobrol dan diskusi di kamar.
pokoke everything new deh
just some thoughts
night_elf
damai sejahtera buat kita semua,
egois juga ya suaminya kalo istrinya balikin seperti yang suaminya ucapkan gimana tu……mungkin harus dibicarakan lebih terbuka (layaknya kita discuss dgn sahabat)
Saya kasihan sama si bosan kok selalu jadi kambing hitam. Semoga masih ingat dengan burung gereja saya di Cayadi.wordpress.com
makanya kita butuh yg namanya refleksi hati…
Memang benar kata ibu itu.
Aku sendiri sudah sering praktek.
bosan itu manusiawi, tapi seharusnya dibicarakan dgn sang istri daripada mengeluh ke orang lain yang ternyata menyebarkannya ke mana2 hehehe… peace, lho frater. jadi penasaran juga apa reaksi si suami kalau istrinya ternyata juga merasakan dan mengeluhkan hal yang sama.
intinya sih simpel: choose what you love, and love what you choose.
ya,,,ya,,,ya,,, solusi bosan ya bareng2 nonton film hot dan praktekin tuh gayax,,,,ntar ga bosan itu klu d kamar,klu d dalam rumah saya rasa tata ulang rumahx,letakx,catx,dll deh yg bikin mood kita berubah gitu deh,,,klu soal masakan bagi ibu2 perlu beli buku panduan masak2n atw les privat masak, biar lidah suamix merasakan hal yg baru gitu. gimana ????
Hai, salam kenal frater…
menarik lho, ceritanya… bosan / tidak memang buat saya masalah mengelola pikiran juga sama seperti melakukan pekerjaan sehari2.
Menikmati segala sesuatu, menjaga dinamika, mengubah2 setting sebelum bosan datang adalah pilihan yang saya lakukan.
Hmm, paling baik memang mencegah, karena kalau sudah bosan, apalagi dilanjutkan dengan memberi pembenaran pada rasa bosan itu ditambah tidak bisa mengatasi, repot jadinya. Doakan saya nggak gitu ya….
udah bisa diakses Ter…
wah ter kalau masalahnya bosan itu sih perkara kecil tinggal cari variasi aja, tp ter justru yang sering terjadi bukan masalah bosan justru masalah yang lebih berat yaitu masalah topeng, lha waktu pacaran kan masing – masing mengenakan topeng nah ketika sudah seatap topeng perlahan- lahan sudah mulai sering ditanggalkan dan masing – masing akan sering melihat wajah asli pasanganya, nahhh kalau gak siap mental terjadilah yang seharusnya terjadi he.. he.. he..
hmmm jadi menikah itu nantinya kayak rutinitas yang membosankan yah??? ehemmmm *mikir-mikir
kalau pasangan suami istri udah bosan dan kemudian berselingkuh,apakah menjamin dg pasangan selingkuhnya tidak akan bosen juga??
*bingung*….hihihi.a
apa kabar, ter?? lama neh gak main sini rupanya udah aktif lagi ya…salam
Artikel ini membuka mata saya bahwa budaya patriarki masih mengakar kuat. Masih sedikit orang yang melihat secara seimbang (tidak bias) bagaimana peran suami istri. Tidak hanya laki-laki yang masih menuntut perlakuan yang memposisikan mereka lebih dari perempuan, namun ternyata perempuan juga memilih untuk tetap memposisikan dirinya sebagai subordinat perempuan.
Saya sepakat untuk melihat relasi dalam pernikahan sebagai timbal balik bukan hanya menuntut salah satu pihak menjadi pelayan atau selalu berusaha menyenangkan pihak lain.
Saya suka dengan kalimat “jika kita siap memberikan waktu, tenaga, perhatian kita kepada seseorang, maka kita siap menikah dengan orang tersebut…”
salam kenal ter,
wah,..kalo soal bosen, sebenarnya bukan hanya milik kaum pria loh,..
wanita juga bisa bosan,…
tapi pointnya kan kita harus bisa saling melengkapi.
Kalo yang satu bosan,..yang lainnya bikin variasi dong..
he..he..he..
http://daviscasebastian.blogspot.com
salam kenal….
maaf sebagai kaum wanita, saya kurang setuju kalau seorang wanita di sebut pelacur, karena jelas sekali perbedaanya kalau pelacur melayani suami tanpa perasaan dan hanya tertuju pada suatu materi tapi kalau seorang istri melayani suami dengan penuh perasaan cinta dan utk membahagiakan suami .
Sabar ya…
Salam hormat.
Bosan dengan isteri sekarang? Lalu bagaimana? Apa mahu cari isteri lain?
Kalau beristeri lagi dan bosan lagi bagaimana? Lalu cari lagi isteri lain…Lho bila mahu habis itu?
Mudah aja tu bro…pandang isterimu dengan pandangan makrifah pandang wajah dan bodynya ketika bercewek dengan kita dulu…
Salam hormat
Waduh… Kok bisa ya..
Saya punya temen yang masih mesra sampe sekarang yang udah punya 3 anak, anget….. banget… Bingung jadinya,hehehehe