Bahagia Milik Kita

Ketika pagi merekah, kita disambut oleh sang mentari yang mulai menampakkan sinarnya. Burung-burung biasanya mulai berkicau menyambut hari yang baru itu. Sedang kita mulai bergegas untuk menggerakkan badan setelah lelap dalam tidur semalaman. Pagi yang indah dan akan selalu begitu. Sebab keindahan pagi sekali lagi tergantung dari keputusan kita untuk menjadikan pagi itu indah. Pagi dari dulu sampai kapanpun akan seperti itu, namun apakah pagi itu indah bagi kita? Sekali lagi tergantung pada keputusan kita.

Kebahagiaan juga menjelang dan menyapa kita setiap kita mulai bangun pagi. Semua orang kemudian akan berlomba mencari kebahagiaan itu. Ada yang pergi ke kantor. Ada yang pergi ke ladang. Ada yang berangkat ke sekolah untuk belajar atau mengajar. Ada pula yang pergi ke masjid atau gereja. Ada pula yang masih di kolong jembatan. Ada yang mulai merapat ke perempatan jalan. Anda perhatikan semua orang mulai beranjak dari tempat semula ketika pagi tiba. Seakan mereka yakin bahwa kebahagiaan itu ada di tempat yang akan mereka tuju. Seorang guru yakin kalau di sekolah dia akan temukan kebahagiaan. Seorang pekerja yakin kalau di pabrik atau kantornya dia akan merasa bahagia. Petani berangkat ke sawah karena di sana dia menggantungkan kebahagiaan itu.

Lantas, mengapa masih banyak orang yang menderita dan tidak menemukan kebahagiaan di sana? Mengapa seorang guru tidak merasa bahagia mengajar di sekolah? [sehingga mendirikan lembaga bimbingan belajar atau memberi les privat di rumah]. Mengapa seorang pekerja tidak menemukan kebahagiaan di kantor sehingga harus curi-curi waktu untuk pergi ke mal? Mengapa kebanyakan dari kita yang yakin bahwa dengan bekerja itu akan merasa bahagia namun kebahagiaan tak kunjung datang. Dimanakah kebahagiaan itu?

Dan itulah kesalahan kita: kita terus mencari kebahagiaan itu sementara kita belum tahu di manakah dia berada. Seperti seorang yang mencari rumput di padang pasir, begitulah kita yang mencari kebahagiaan tetapi tidak tahu di mana dia berada. 

Di manakah kebahagiaan itu? Kesalahan kita adalah selalu mencari kebahagiaan padahal kita sebenarnya sudah memilikinya. Sekali lagi kita sudah memiliki kebahagiaan itu. Masalahnya adalah apakah kita sadar dan mau untuk menerima kebahagiaan itu? Mau menerima kebahagiaan berarti memutusakan untuk bahagia. Kebahagiaan ada dalam diri kita. Dia ada dalam hati kita, ada dalam pikiran kita. Dia tidak jauh dari kita. Maka kenalilah dia dan putuskanlah untuk merasa bahagia mulai dari sekarang. 

Kita mungkin menggantungkan kebahagiaan itu di tempat lain sehingga kita harus mencarinya lagi. Ada yang menggantungkan kebahagiaannya pada pekerjaan dan uang sehingga dia akan mencari terus dimana pekerjaan dan uang yang membuatnya bahagia itu. Ada yang menggantungkan kebahagiaan pada seseorang yang dia cintai sehingga dia akan mencari orang itu sampai dia menemukannya padahal tidak ada orang yang sungguh-sungguh bisa mencintai. Bahkan Anda sendiripun tidak bisa mencintai. Sebab Anda tidak akan pernah bisa mencintai orang lain sampai Anda sadar kalau sebenarnya yang Anda cintai adalah diri Anda sendiri, yang Anda cintai adalah pikiran Anda sendiri.  Apabila kita masih menggantungkan kebahagiaan di luar diri kita, maka marilah kita belajar bersama bahwa kebahagiaan sudah ada dalam diri kita. Mari kita putuskan untuk bahagia mulai dari sekarang sebab kebahagiaan adalah salah satu tujuan hidup kita. Dan dia ada dalam diri kita.  

Selamat berbahagia. Tetap Semangat. Be Smart!

One Response

  1. setuju sekali bahwa hidup ini sangat luar biasa, karena kebahagiaan itu ada didalam diri

Leave a Reply