Mengapa ada dusta di antara kita?

Disadari atau tidak kebohongan telah menjadi bagian dalam kehidupan kita. Mungkin kita manusia biasa ini sulit melewati satu hari saja tanpa kebohongan. Kita tidak mempermasalahkan kualitas kebohongan kita itu. Apakah itu bohong besar atau bohong kecil, apakah itu bohong untuk kebaikan ataupun untuk keburukan. Tetap saja bohong namanya.  

Mengapa kita harus berbohong? Mengapa seorang anak harus berbohong pada orang tuanya kalau dia mendapatkan nilai jelek di sekolah? Mengapa seorang suami bohong pada istrinya kalau dia sudah tidak setia? Mengapa seorang karyawan bohong pada atasannya kalau dia sudah datang terlambat? Mengapa ada kebohongan dalam kehidupan kita? 

Kita yang pernah berbohong akan mengakui kalau kebohongan yang satu akan membawa kita pada kebohongan yang lain. Setelah kita bohong soal tadi malam pergi kemana sama isteri kita. Esok hari kita akan bohong lagi soal penggunaan uang kita dan begitu seterusnya. Kebohongan yang satu akan mengakibatkan kebohongan yang lain dalam kehidupan kita. Mengapa kita harus berbohong? Itu adalah pertanyaan yang harus kita jawab.

Kita sudah merasakan bagaimana tidak nyamannya setelah berbohong. Kita sudah merasakan bahwa bohong membuat kita tersiksa. Tetapi mengapa kita terus saja berbohong? Saat kita berbohong ada sesuatu yang kita tutupi. Sayangnya sesuatu yang kita tutupi itu adalah sesuatu yang tidak sesuai dengan norma atau komitmen kita pada orang yang kita bohongi. Suami bohong kalau selingkuh. Mengapa harus bohong kalau dia selingkuh karena perselingkuhan adalah tindakan yang meretas norma dan komitmen suami isteri. Kita juga terbiasa berbohong karena sudah dikondisikan dalam situasi. Seorang anak yang hidup dalam keluarga yang biasa berbohong akan menjadi anak yang bisa berbohong tanpa merasa bersalah. Hebat bukan? Anda tahu kalau kebohongan itu juga dilahirkan? 

Kebohongan bukanlah raja yang menguasai kita kalau kita tidak mengijinkan dia untuk menguasai kita. Kita tidak akan pernah berbohong kalau kita selalu sadar dan waspada. Manusia seburuk dan sejahat apapun pasti di lubuk hati yang paling dalam ada kebaikan karena manusia pada dasarnya diciptakan baik oleh Sang Pencipta. Oleh karena itu satu-satunya cara untuk tidak lagi berbohong adalah membiasakan diri tidak berbohong. 

Be Smart.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: