Beberapa hari terakhir ini, kita sering melihat dan mendengar pemberitaan yang negative di berbagai media. Berita negative itu adalah berita membuat reaksi perasaan kita sebagai manusia biasa menjadi sedih, kecewa, jengkel, gemas, dan lain-lain. Kabar ini tentu sangat kontras dengan suasana Idul Fitri yang baru saja kita rayakan.
Beberapa waktu yang lalu kita mendengar Gunung Kelud di daerah Kediri , Jawa Timur yang mulai bergeliat akan meletus. Kemudian berbondong warga sekitar harus meninggalkan rumah untuk mengungsi. Kabar pertama yang menyayat hati adalah berita tentang pengungsi yang tidak diurusi oleh pemerintah daerah setempat. Mereka sampai siang tidak diberi makan. Mereka harus tidur di lantai. Bahkan sudah ada di antara mereka yang sakit. Kabar kedua adalah mereka terpaksa kembali ke rumah masing-masing kendati Gunung Kelud akan meletus sewaktu-waktu.
Selanjutnya, kemarin telah terjadi perang suku di Papua. Bagaimana ini tidak menyayat hati, kita saudara saja masih saling berperang. Bagaimana kita akan memberikan perdamaian bagi dunia ketika di keluarga kita sendiri belum menemukan kedamaian itu. Kita mungkin terlalu sombong mengirimkan pasukan perdamaian atau misi perdamaian ke PBB, sementara di negeri kita sendiri perdamaian belum terwujud. Mengapa kita tidak mengirimkan misi damai ke Ambon, ke Makassar, ke Papua dan ke daerah lain yang sampai saat ini damai belum terwujud?
Masih berita duka yang menyesakkan hati. Adalah seorang bapak yang meninggal karena dikeroyok massa. Bapak ini tidak salah apa-apa. Dia hanya berada di tempat yang salah pada situasi yang tidak tepat. Bapak ini sedang mencari jeruk untuk keperluan upacara selamatan di keluarganya. Tetapi sayang, bapak ini mencari jeruk di pekarangan yang sedang disengketakan. Diduga berasal dari salah satu pihak yang bersengketa maka tiba-tiba bapak ini sudah dikeroyok gerombolan dari masa yang lain. Sayang nyawanya tak tertolong setelah tombak dan parang menghujam sang bapak. Dan bayak lagi litani berita buruk yang dapat kita tambahkan sendiri.
Lantas bagaimanakah kita akan bersikap dalam suasana seperti ini? Sobat, katanya hidup kita ini hanya sekali saja dan kita juga tidak tahu kapan akan mati, lantas kenapa dunia ini kita penuhi dengan berita buruk setiap hari. Lantas mengapa berita buruk saja yang sering kita dengar atau bahkan kita sampaikan kepada orang lain. Bahkan sekarang pun saya juga sedang menyampaikan berita buruk kepada Anda. Apabila setiap hari yang kita liat dan pikirkan adalah yang buruk maka jangan heran kalau kita juga menjadi semakin buruk dan terpuruk. Sudah saatnya kita hentikan berpikir buruk? Kita harus mulai berpikir positif kendati berita buruk yang kita temui dan dengar setiap hari. Kita harus memulai dari sekarang. Kendati dunia kita penuh dengan berita buruk, kita harus bisa mengendalikan diri kita untuk tidak larut dalam kenegatifan itu. Dalil memang mengatakan bahwa negative dikali positif hasilnya adalah negative namun dalam hal ini kita tidak mengalikan hal negative itu tetapi kita menghilangkannya.
Orang bijak selalu berkata bahwa ada hikmah di balik setiap kejadian yang kita alami. Dan apa yang kita alami sekarang adalah rencana yang maha kuasa, dan rencanaNya kan indah pada saatnya.
Tetap semangat, Be Smart!
Filed under: Personality, Reflection | Tagged: kabar gembira, kepribadian, positive thinking
