Sampai sejauh ini, ada dua hal atau dua sesuatu yang aku rasakan selalu setia ada dalam beradaku. Pertama, Dia adalah Tuhanku. Kendati, aku tak pernah melihat dengan mata telanjang, namun aku p ercaya Dia ada. Kedua, sesuatu itu adalah rokok.
Rokok menjadi temanku. Walau banyak orang mengatakan bahwa dia berbahaya untuk kesehatanku, toh aku tetap setia dengan dia sampai sekarang.
Aku pernah berniat tidak akan merokok lagi. Dan aku pernah bisa. Satu bulan penuh tidak merokok, aku bisa. Jadi aku bukanlah budak rokok. Ada teman yang pernah berkata bahwa dia tak bisa hidup tanpa rokok. Wah, hebat sekali dia ya. Cintanya adalah rokok.
Tetapi, sahabat itu kadang justru menjadi musuh. Bahkan musuh yang paling membahayakan. Musuh yang dapat mencabut nyawa. Benar, rokok sampai sekarang masih menjadi mesin pembunuh yang mengerikan.
Aku heran kenapa masih banyak orang yang merokok. Bahkan aku sendiri, sampai sekarang juga belum berhenti total merokok. Aku sendiri masih mencari dimana letak nikmat rokok itu. Karena sampai sekarang belum ketemu juga nikmatnya maka aku belum menghentikan pencarian itu alias aku masih merokok sampai dengan sekarang ini.
Ada juga yang bilang, kalau merokok itu membuat awet muda. Nah, aku heran bukankah sudah banyak penelitian yang menyatakan bahwa merokok merugikan kesehatan. Tapi kenapa, teman ini bilang kalau merokok itu membuat awet muda, seriuskah? Tidak, ternyata teman ini hanya mau menyindir saja. Merokok membuat awet muda karena sebelum tua kita sudah mati. Jadi perokok tidak bakalan jadi tua. Begitu sindiran dia.
Aku masih heran kenapa sampai sekarang aku belum juga menghentikan merokok.
Filed under: Personality, Reflection | Tagged: musuh, rokok, teman
