Strategi Kebudayaan

Strategi Kebudayaan: sebuah resensi

Buku karya Prof. Dr. Van Puersen berjudul Strategi Kebudayaan yang diterbitkan Kanisius-Yogyakarta ini tidak menyajikan suatu pelukisan ataupun keterangan gamblang mengenai pergeseran-pergeseran dahsyat yang terjadi dalam bidang kebudayaan. Buku ini bermaksud membeberkan suatu gambar sederhana mengenai perkembangan kebudayaan. Gambar sederhana tersebut akan menjadi skema yang dapat dipakai dalam situasi-situasi yang selalu berubah dan dialami oleh umat manusia.

Pendekatan skematis yang dijabarkan dalam sebuah bagan di dalam buku ini akan memperlihatkan tiga tahap dalam perkembangan kebudayaan: tahap mitis, yaitu ketika manusia masih terbenam dalam dunia sekitarnya; tahap ontologis, bilamana manusia telah mengambil jarak terhadap alam raya dan terhadap dirinya sendiri; tahap fungsional bila manusia mulai menyadari relasi-relasi kemudian mendekati tema-tema tradisional, yang oleh van Peursen [Cornelis Anthonie van Peursen doktor filsafat di Leiden negeri Belanda adalah seorang guru besar filsafat di Universitas Negeri Utrecht rajin memebrikan kuliah-kuliah di beberapa negara termasuk di Indonesia. Buku Strategi Kebudayaan dalam edisi lengkap diterbitkan di Amsterdam, 1970 dan di New York, 1974: The Strategy of Culture (American Elsevier).]disebutkan alam, Tuhan, sesama, identitas diri sendiri, dengan cara yang baru. Tahap ini tidak menunjukkan kualitas tingkatan artinya setelah dari tahap mitis akan menjadi ontologis dan akhirnya ke tahap fungsional, tidak begitu. Dalam setiap tahap memiliki kekhasan positif dan negatifnya sendiri-sendiri. Galian terperinci akan dipaparkan dalam aliena selanjutnya. Dengan demikian tampaklah benang-benang gagasan buku ini: ”kebudayaan” bukanlah sebuah kata benda melainkan suatu kata kerja. Kebudayaan adalah karya manusia sendiri, dan tanggung jawab manusia sendiri. Demikian kebudayaan dilukiskan secara fungsional yaitu sebagai suatu relasi terhadap rencana hidup manusia sendiri. Kebudayaan kemudian tampak sebagai suatu proses belajar raksasa yang sedang dijalankan oleh umat manusia. Ini berarti perkembangan kebudayaan tidak terlaksana di luar manusia tetapi di dalam diri manusia itu sendiri. Bila ada kata strategi kebudayaan itu artinya manusia sendirilah yang membuat strategi kebudayaan itu dan menemukan strategi kebudayaan untuk membudaya sendiri dalam mengukir sejarah hidupnya.

Tiga tahap strategi kebudayaan itu adalah sebagai berikut:

Mitis

Orang menyebut budaya yang lama dengan istilah ”primitif”. Kendati sebutan itu menurut Peursen sudah tidak relevan lagi. Karena, menurutnya, dunia alam pikirannya mengandung suatu filsafat yang dalam, gambaran yang ajaib dan adat istiadat yang beragam. Runutan epistemologis akan menemukan kata mitos dari kata mitis ini, kata mitos sendiri berarti sebuah cerita yang memberikan pedoman dan arah tertentu untuk sekompok orang. Mitos biasanya diturunkan oleh pendahulu dan akan diteruskan lagi. Begitulah kemudian akhirnya sebuah mitos bergulir dari jaman ke jaman. Cerita atau tuturan penurunan ini dapat diungkapkan dengan kata-kata, tari-tarian, atau pementasan lain, wayang misalnya. Tarian di samping sebagai salah satu wujud tradisi lisan, juga sekaligus sebagai suatu bentuk seni pertunjukan. Dikatakan sebagai suatu tradisi lisan karena tarian tersebut mengandung dimensi mithologi atau pesan tertentu yang hanya dipahami oleh pendukung tarian tersebut, dengan demikian menjadi sarana komunikasi, sosialisasi atau sebagai suatu proses reproduksi kebudayaan baik dalam konteks ritual, seni, maupun dalam bentuk pertunjukan lainnya. Dengan asumsi bahwa tarian merupakan bagian dari media pertunjukan dan performance itu selalu mengharapkan adanya audience. Selain Kapferer, Bauman juga menekankan bahwa performance merupakan suatu bentuk perilaku yang komunikatif dan sebagai suatu peristiwa komunikasi, atau “performance usually of communication, framed in a special way and put on display for an audience”. Ini menunjukkan bahwa bahwa tarian sebagai suatu bentuk seni pertunjukan sama dengan seni pertunjukan lainnya dimana audience menjadi bagian darinya. Disamping itu, tarian juga merupakan salah satu alat atau media komunikasi yang bersifat lisan (non-verbal), baik dalam konteks seni maupun ritual. Proses transformasi makna lewat komunikasi tersebut, berbeda dengan bahasa (narasi dan visual), dimana makna yang diekspresikan lewat tarian melalui perilaku atau gerakan.Mitos tidak hanya sebuah reportase akan apa yang telah terjadi saja, namun mitos itu memberikan semacam arah kepada kelakuan manusia dan digunakan sebagai pedoman untuk kebijaksanaan manusia. Lewat mitos manusia mengambil bagian (ber-part-sipasi). Partisipasi manusia dalam alam pikiran mitis ini dilukiskan sederhana sebagai berikut:Terdapat subjek, yaitu manusia (S) yang dilingkari oleh dunia, obyek (O). Tetapi subjek itu tidak bulat sehingga daya-daya kekuatan alam dapat menerobosnya. Manusia (S) itu terbuka dan dengan demikian berpartisipasi dengan daya-daya kekuatan alam (O). Partisipasi tersebut berarti bahwa manusia belum mempunyai identitas atau individualitas yang bulat, masih sangat terbukan dan belum merupakan suatu subjek yang berdikari sehingga dunia sekitarnya pun belum dapat disebut  (O) yang sempurna dan utuh. Fungsi-fungsi mitos adalah: pertama, menyadarkan manusia bahwa ada kekuatan-kekuatan ajaib. Kedua, memberi jaminan bagi masa kini bahwa usaha manusia dalam mengukir sejarah hidupnya akan terus terjadi dan akan ada keberhasilan yang terus berulang-ulang (retardasi). Ringkasnya mitos berfungsi menampakkan kekuatan-kekuatan, menjamin hari ini, memberi pengetahuan tentang dunia bahwa manusia berada dalam lingkaran kekuatan alam. Di sinilah tampak kemudian geliat tarik menarik antara imanensi dan transendensi. Jangan salah, ketika dalam alam pikiran mitis pun manusia telah memiliki norma/ketentuan yang mengatur tingkah laku manusia. Norma atau ketentuan inilah yang kemudian akan terus berubah entah mengalami kemajuan ataupun dekandensi. Sebut saja dahulu ada ketentuan anak banyak maka banyak pula rejekinya. Orang jaman dulu tak malu memiliki banyak anak. Namun, seiring bergesernya peradaban banyak anak menjadi suatu aib bahkan ”dilarang” oleh pemerintah/sang pemegang kekuasaan. Muncullah kemudian tindakan abortus. Begitulah normapun akan berjalan seiring perkembangan manusia dalam berpikirnya. Kata mitos lekat pula dengan kata magi. Namun keduanya sangat bertentangan. Mitos lebih dekat dengan suatu pujian religius kepada sang transenden sedangkan magi lebih kekaguman kepada diri sendiri (sang imanen). Ketegangan ini juga akan nampak dalam fenomena budaya. Lihat saja patung-patung jaman Yunani kuno yang sebelumnya didominasi oleh patung dewa-dewi tradisonal akan beralih didominasi oleh para raja yang mengaku sebagai dewa demi mengkultuskan dirinya sendiri.

Ontologis

Dalam alam pikiran ontologis, manusia mulai mengambil jarak terhadap segala sesuatu yang mengitarinya. Ia tidak begitu terkurung lagi, bahkan kadang ia bertindak sebagai penonton atas hidupnya sendiri. Ia berusaha memperoleh pengertian  mengenai daya-daya kekuatan yang menggerakkan alam dan manusia. Perkembangan ini pernah disebut sebagai perkembangan dari ”mitos” ke ”logos”. Kata ”logos” mengandung arti sesuatu yang mirip dengan ”logis”. Namun dalam tahap ini memang manusia tidak hanya melulu berpikir secara logis, tapi emosi dan harapan juga bermain di sini, pun agama dan keyakinan juga tetap berpengaruh. Sekarang ajaran mengenai dunia mitologis berubah menjadi metafisika. Refleksi atas kehidupan manusia dengan para pemikir besar Yunani,  sebut saja Aristoteles, Plato, dan dedengkot filsafat yang lain meramaikan alam pikiran ontologis ini. Pertanyaan yang diajukan dalam alam pikiran ini adalah tentang dunia transenden, tentang kebebasan manusia, pengertian mengenai dosa dan kehidupan, eskaton (akhir jaman), dll.Fungsi dari alam pikiran ontologis adalah sebagai berikut: pertama, membuat suatu peta mengenai segala sesuatu yang mengatasi manusia. Gambar dari tahap ontologis adalah sebagai berikut: Ontologis tersebut mau mengatakan sikap manusia yang tidak hidup lagi dalam kepungan kekuasaan mitis, melainkan yang secara bebas ingin meneliti segala hal ikhwal. Manusia mengambil jarak terhadap segala sesuatu yang dulu dirasakan sebagai kepungan. Ia mulai menyusun suatu ajaran atau teori mengenai dasar hakikat segala sesuatu (ontologi) dan mengenai segala sesuatu menurut perinciannya (ilmu-ilmu). Akan terlihat bahwa ontologi itu berkembang dalam lingkungan-lingkungan kebudayaan kuno yang sangat dipengaruhi oleh filsafat dan ilmu pengetahuan.

Fungsional

Tahap fungsional adalah sikap dan alam pikiran yang makin nampak dalam manusia modern. Ia tidak begitu terpesona lagi oleh lingkungannya (sikap mitis). Ia tidak lagi, dengan kepala dingin, mengambil jarak terhadap obyek penelitiannya (sikap ontologis). Ia ingin mengadakan relasi-relasi baru, suatu kebertautan yang baru terhadap segala sesuatu dalam lingkungannya. Dalam gambar strategi fugnsional itu nampak sebagai berikut: Strategi kebudayaan sebetulnya lebih luas dari pada hanya menyusun suatu policy tertentu mengenai kebudayaan. Di belakang policy ekbudayaan seperti disusun oleh pemerintah atau diperjuangkan oleh sekelompok seniman atau ilmiawan, terpampang masalah-masalah yang lebih luas jangkauannya. Seperti misalnya pertanyaan-pertanyaan menyangkut tujuan hidup, makna kehidupan, norma yang mengatur kontak antar manusia, dsb. Dan oleh karena pertanyaan itu, manusia selalu berusaha menemukan jawaban-jawabannya. Maka teruslah proses dinamika sejarah tersebut.

7 Responses

  1. salam, saya pembaca dari Malaysia, sekarang saya sedang membuat kajian tentang budaya berorientasikan masa, adakah saudara boleh menerangkan topik tersebut. saya kurang jelas. by the way, terima kasih atas artikel strategi kebudyaan ini :)

  2. saya mahasiswi sebuah perguruan tinggi di ptk.
    saya membaca tulisan ini.
    dan saya sedang membuat makalah tentang strategi kebudayaan.
    saya mengerti apa maksud dari strategi kebudayaan tapi sya tidak mengerti bagaimana menjabarkan nya.
    sebenarnya strategi kebudyaan itu apa sih ? dan apa tujuan kita mengetahuinya dan mempelajarinya.
    trimakasih sebelumnya.

  3. Apabila masyarakat Baduy di Banten dianalisis dengan menggunakan kontruk pemikiran Van Peursen, maka ketiga tahap, Mitis, Ontologis dan Fungsional sudah menjadi ciri kebudayaan Baduy. Bagi para mahasiswa yang ingin menelaah lebih jauh tentang kebudayaan Baduy, dapat menyumbangkan pemikirannya kepada situs Visit Baduy Village

  4. saya juga sudah baca bukunya Van Peursen itu….
    disana bahasanya memang rada mbulet-mbulet…

  5. mitos perlu dimanai secara dinamis, disesuiakan dengan situasi masa kini. lihat saja kasus tanah longsong di bandung, atau banyaknya hutan rusak mungkin perlu digalakkan lagi cerita yang mengandung mitos.

  6. saya ingin sekali buku strategi kebudayaan, untuk materi mata kuliah semester tujuh

  7. thanks,,,, sy ge membuat resume tentang strategi kebudayaan.. so sgat membntu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: