Ironi Rusbani

Rusbani adalah seorang office boy di kantor cabang saya. Dia seorang yang rajin, cekatan pula walau cenderung agak tregelan (ceroboh dalam arti yang positif). Sebagai office boy (OB) dia terima gaji UMP per bulan. Dia boleh tinggal di kantor karena salah satu bagian tugasnya adalah juga menjaga kantor. Jadi setiap pagi, ketika yang lain belum pada datang, dia sudah memulai aktivitas kerjanya. Membersihkan lantai, mempersiapkan minum untuk para pekerja yang lain adalah rutinitas yang biasa dia lakukan setiap hari.

Itulah Rusbani, pekerja yang bagiku tidak hanya sebatas pekerja tetapi dia juga seorang pelayan. Pelayan yang dalam arti sempit adalah orang yang bisa disuruh apa saja. Memang, Rusbani mau disuruh apa saja. Kadang kala apa yang harus dia kerjakan pun bukan tugasnya sebagai OB, tetapi Rusbani tetap mengerjakan.

Alkisah, kantor cabang tempat Rusbani bekerja adalah divisi yang tidak beres. Artinya orang-orang yang bekerja di divisi Rusbani sama sekali tidak produktif. Justeru seorang Rusbani yang merasakan kegundahan. Dia sudah digaji tetapi tiap hari kerja dia hanya bersih-bersih dan bikin minum. Dan memang itulah tugas dia sebagai seorang OB. Raut kegundahan tampak di wajah Rusbani sore itu ketika menghadap saya untuk berpamitan.
Ya, Rusbani mau mengundurkan diri karena merasa sudah digaji tetapi kerjanya tidak sepadan dengan gaji itu. Itu adalah pikiran Rusbani. Kemudian saya bertanya kenapa justeru Rusbani yang mengundurkan diri. Kenapa bukan atasan-atasan dia yang nota bene digaji lebih besar daripada dia yang mengundurkan diri karena toh merekalah yang tidak produktif. Tetapi Rusbani sudah membuat keputusan, dia akan meninggalkan perusahaan esok paginya karena sudah dapat pekerjaan yang baru di sebuah bengkel, katanya.

Keingingan itu sudah tidak bisa saya lerai. Dia merasakan apa gunanya ke Jakarta bila tidak dapat keterampilan apa-apa. Lagi-lagi Rusbani, OB-ku itu memperlihatkan kecerdasan dan kegundahan emosionalnya. Sebagai orang desa, dari Bantul, orang tuanya petani, dia sudah terbiasa kerja keras dan tidak dibiasakan menganggur. Kalau makan maka harus kerja, filosofi itu mungkin yang juga menggelayuti pemikiran Rusbani.

Begitu sederhana orang ini memaknai hidupnya. Dia mengambil keputusan dengan sederhana karena menurutnya hidup ini juga teramat sederhana. Bila dulu kita masih kecil sering bermain, ada main ruma-rumahan, main dokter-dokteran, maka sekarang kita sudah besar sebenarnya juga masih bermain hanya saja permainannya juga lebih besar. Tetapi hidup masihlah sederhana di mata Rusbani. Mengapa sering kali hidup ini menjadi begitu rumit. Ah ternyata kita sendiri yang membuat hidup ini rumit.

Hidup ini masih sederhana. BE SMART!

Leave a Reply