Pernahkah merasakan bahwa sepanjang hari adalah milik Anda sendiri? Ketika tiada yang menyuruh atau mendikte Anda untuk melakukan ini itu, ketika Anda bebas untuk melakukan apa saja yang ingin Anda lakukan tanpa merasa bersalah karenanya, ketika Anda tidak lagi dinilai sebagai baik atau buruk, sebagai pintar atau bodoh, sebagai kejam atau dermawan.
Tetapi rasanya sulit untuk mendapatkan itu semua. Apapun yang kita lakukan pasti dinilai dan nilai itu secara gampang dan simple akan diwujudkan dalam bentuk sejumlah uang. Seberapa besar jasa Anda pada perusahaan? Gampang saja diketaui dari berapa digit besar gaji Anda. Benar bukan? Seberapa besar bakti Anda pada masyarakat? Akan dilihat dari catatan pak RT sudah berapa banyak sumbangan Anda untuk proyek di masyarakat. Begitulah semua aspek kehidupan orang selalu dinilai, dan materi menjadi alat yang banyak dipilih orang untuk memberikan penilaian itu.
Namun, disadari atau tidak, justeru kita sendirilah yang sering menilai diri kita (baca: mengadili). Mudah saja kita memberikan penilaian yang negatif pada diri kita sendiri. Coba berapa kali hari ini Anda sudah menghujat diri Anda sendiri? Mengatai Anda malas, Anda tidak konsisten, Anda pencemburu, atau Anda baik, Anda jujur, Anda sopan. Lebih banyak ungkapan yang positif atau negatif yang telah Anda lontarkan untuk Anda sendiri. Kalau lebih banyak negatifnya, kasihan sekali diri Anda. Anda ternyata juga menilai diri Anda sendiri negatif. Lalu adilkah Anda kalau menginginkan orang lain menilai Anda positif.
Penilaian memang sulit sekali dilepaskan dari hidup kita sebagai manusia. Kemanapun dan dimanapun kita, pasti akan mendapatkan penilaian. Dan orang menilai kita dari kenampakan luar kita. Namun kita sendirilah yang sebenarnya paling mengetahui diri kita dan nilai kita. Inilah kenapa manusia dikatakan memiliki harga diri. Sungguh hanya diri kitalah yang dapat memberikan nilai secara jujur dan tulus pada diri kita. Jangan pernah menunggu orang lain untuk memberikan nilai pada Anda, tetapi nilailah diri Anda sendiri sebagai orang yang berharga, sebagai orang yang baik. Penilaian orang lain selalu memuat keegoisan mereka. Mereka mungkin menilai Anda sebagai orang baik karena mereka tidak mau Anda kecewa dan kemudian membencinya. Mereka mengatakan Anda dermawan karena mereka tidak ingin Anda berhenti memberikan bantuan pada mereka. Tetapi bila Anda menilai Anda baik, apakah ada maksud di baliknya? Anda pasti tulus mengatakan itu pada diri Anda sendiri bukan?
[Hari ini, ada seorang anak manusia yang mencoba memiliki harinya sendiri. Ia ingin membuat dunianya sendiri. Menghabiskan waktunya sendiri tanpa diganggu oleh orang lain. Bahkan tanpa diganggu oleh pekerjaan atau tugas kantornya, walaupun itu tak bisa ia lepaskan dari pikirnya. Toh dia berusaha bahagia hari ini. Syukurlah dia masih bisa menikmati hari ini dengan gembira. Tidak ia persoalkan bahwa ternyata dia belum terima gaji. Tidak ia ambil pusing bahwa besok dia harus menjawab tuntutan mantan atasannya yang dipecat. Hari ini dia masih bisa menikmati anugerah Tuhannya. Walaupun dia sendiri sudah mulai lupa bahwa Tuhannya sudah banyak cinta padanya.]
Begitu banyak orang yang menderita di dunia ini. Bahkan kata Anthony de Mello, banyak orang gila di dunia ini. Oleh karena, mereka begitu lekat dengan dunia ini. Atau kata Ignatius de Loyola, mereka tidak lepas bebas dengan dunia ini. Memang sulit, bagaimana mungkin orang yang masih hidup di dunia bisa lepas bebas dari dunianya.
Mungkin juga orang begitu terobsesi untuk mendapatkan penilaian dari orang lain sehingga apa yang dilakukan adalah supaya mendapatkan penilaian dari orang lain. Begitu sengsaranya orang seperti ini. Karena ia tidak pernah hidup sebagai orang bebas. Dia hidup sebagai tahanan, sebagai budak. Walaupun mungkin dia seorang pimpinan suatu perusahaan besar, tetapi bila yang dikejar hanyalah penilaian orang terhadap dirinya, tetap saja dia seorang budak.
Sebagai manusia bebas, sudahkan kita merasakan kebebasan hidup itu? Kebebasan itu akan dapat kita rasakan bila kita mau menjadi diri kita sendiri dan berhenti mendikte diri kita dengan standard yang dipasang oleh orang lain. Maslow berujar, kita bisa menjadi diri kita sendiri bila kita sudah mulai butuh untuk mengaktualisasikan diri kita.
Jakarta, 5 Maret 2007, pk. 00.04
Di sebuah bilik kecil ditemani Symphony No. 40 in G Mayor-nya Beethoven.
Filed under: Personality | Tagged: harga diri, Reflection, selfesteem
