Lagi bosan dengan isteri!

Tiba-tiba saja, temanku berkata, “Tin, aku lagi bosan dengan isteriku.”

“Kemarin malam, aku sudah bilang pada isteriku, aku lagi bosan, kita jalan sendiri-sendiri dulu.”

 

Tiba-tiba saja, aku tak tahu apa yang harus aku katakan.

Aku kaget saja, dengan ungkapan “bosan pada isteri”.

 

Lantas, temanku itu melanjutkan, “Tar kalau kamu sudah punya bini, bakal tahu juga, kalau udah married enam bulan, rasanya udah  biasa aja. Beda banget dengan ketika masih pacaran”.

“Ibaratnya nih, liat dia telanjang aja udah kagak nafsu lagi”, kata temanku dengan sedikit tertawa.

 

Aku bertanya padanya, “Lha maksudmu jalan sendiri-sendiri apa dab?”

 

“Kalau biasanya jalan-jalan bareng, sekarang sendiri-sendiri,

Aku biasanya kumpul-kumpul dan jalan dengan teman-temanku saja,

Biniku juga aku bebaskan, mau jalan sama siapa.” jawab temanku.

 

Kowe selingkuh dab?” tanyaku karena aku berpikir, mungkin karena inilah banyak terjadi perselingkuhan dan tak jarang perceraian. Perselingkuhan karena kebosanan. Kebosanan pada suatu yang sudah rutin. Ya, ketika sesuatu sudah menjadi rutinitas, maka bahaya kebosanan akan muncul .

 

“Kalau soal selingkuh, aku tidak pernah, Tin. Masalahnya bukan soal seks, tapi soal rasa bosan dengan rutinitas”, jawabnya yang ternyata membenarkan yang aku pikirkan soal kebosanan pada rutinitas.

 

Tar kalau sudah tidak bosan ya seperti biasa lagi, jalan bareng lagi”, lanjut temanku.

 

Cerita temanku mungkin saja tidak dialami semua pasangan yang menikah. Tapi paling tidak ada pasangan yang mengalami hal serupa. Kebosanan pada rutinitas kehidupan berumah tangga. Aku bersyukur karena ada teman yang bercerita padaku tentang pengalamannya berumah tangga.

 

Di lain kesempatan, seorang teman (ibu) juga menceritakan bagaimana dia membuat kehidupan rumah tangga supaya selalu baru dan tidak rutin.

 

Temanku itu sharing kalau selama menjadi isteri dia berusaha berperan bukan hanya ganda, tapi triple. Perannya adalah sebagai teman, ibu, dan pelacur. Sebagai teman, karena suami butuh saat-saat ketika mereka ingin berbagi dan didengarkan. Sebagai ibu, karena suamipun kadang seperti anak kecil, yang pengin dimanja. Sebagai pelacur, tentu harus bisa melayani suami di tempat tidur. Supaya suami tidak bosan maka dia berusaha untuk bikin kejutan entah sebagai teman, sebagai ibu, maupun sebagai pelacur bagi suaminya. [aku agak risi ketika mendengar kata pelacur, tapi karena dia sharing ya aku tidak protes istilah itu, aku paham apa maksudnya]. Membuat sesuatu tidak rutin dalam rumah tangga, membuat kejutan-kejutan untuk pasangan adalah penting untuk membuat rasa bosan tidak menghinggapi kehidupan rumah tangga. Beruntung sekali aku punya teman yang selalu mau berbagi.

Menciptakan, mengembangkan dan mengelola komitmen

Tell me and I will forget

Show me and I will remember

Involve me and I will understand

 

Setalah bekerja di bagian pengembangan sumber daya manusia (PSDM) selama tiga setengah tahun, aku mengerti. Terdapat korelasi yang amat positif dan signifikan antara komitmen dan performance. Seorang pekerja yang memiliki komitmen akan memberikan unjuk kerja yang outstanding. Sebaliknya, pekerja yang tidak memiliki komitmen akan menjadi pekerja yang performancenya poor. 

Komitmen pekerja adalah sebuah penentu atau pembeda adanya pekerja yang dalam posisi sama dan pekerjaan sama namun menunjukkan hasil kerja yang berbeda-beda. Komitmen adalah sebuah sikap. Sikap keutamaan yang meletakkan apa yang diyakini sebagai baik akan ditekuni dengan sepenuh hati, sekuat budi, dan segenap tenaga. 

Suatu ketika ada seorang pekerja yang pintar namun orang yang pintar itu tidak menunjukkan kepintarannya dalam bekerja, mengapa? Karena komitmen tidak ada. Tidak ada passion, tidak ada gairah, apalagi determinasi. Orang yang senang dengan pekerjaan maka akan mau dan berusaha mampu untuk mendeliver hasil kerja. Komitmen yang hendaknya diperjuangkan adalah komitmen pada perusahaan, komitmen pada profesi, dan komitmen pada pekerjaan. 

Oleh karena komitmen adalah sesuatu sikap yang penting maka PSDM hendaknya sudah mengenali sedari awal masuk kerja apakah seorang kandidat akan dapat menunjukkan komitmen dalam pekerjaannya. Bagaimana mendeteksi orang yang memiliki komitmen dan tidak? Apakah dia mencari kerja hanya kerena tidak ada pekerjaan lain? Apakah dia mencari kerja karena ada kesungguhan? Apakah dia mengenal baik perusahaan Anda? Intinya adalah motivasi apa sehingga kandidat melamar di perusahaan Anda. 

Bagaimana menciptakan komitmen di dalam perusahaan? Pameo di atas sudah menjelaskannya. Apabila manajemen atau bagian PSDM hanya menceramahi pekerja untuk berkomitmen maka ceramah itu akan dilupakannya. Apabila manajemen dan PSDM memberikan keteladanan bagaimana berkomitmen dalam bekerja, maka para pekerja akan mengingat keteladanan itu. Terlebih apabila pekerja dilibatkan dalam proses kebijakan dan tindakan perusahaan, maka pekerja akan memahani dan mengerti lantas akan mau terlibat.

PSDM memiliki peran penting dalam menciptakan komitmen. Maka, logisnya PSDM harus memiliki komitmen pada perusahaan. Sebelum memiliki komitmen itu, PSDM sudah memiliki pandangan yang positif pada perusahaannya. Apabila seorang yang bekerja di PSDM memiliki pandangan yang negatif pada perusahaan (dan itu mendominasi paradigmanya) maka sebaiknya dia meninggalkan perusahaan itu. Jajaran line manager yang merupakan front liner PSDM juga hendaknya adalah orang-orang yang memiliki komitmen pada perusahaan. 

Libatkan pekerja dalam bisnis perusahaan. Jelaskan latar belakang supaya pekerja memahami kebijakan yang diambil. Berikan investasi pada kegiatan yang memunculkan kecintaan pekerja pada perusahaan.

Katanya, cewek pintar susah orgasme lho!

Dalam sebuah tulisan di kompas.com (Rabu, 30 April 2008) saya membaca berita menggelitik ini.
Cewek yang tergolong smart atau pintar katanya lebih sulit mencapai orgasme dibanding yang tidak pintar. Apa sebabnya? Karena mereka lebih banyak berpikir daripada merasakan. Apakah ini sebuah kesimpulan atau masih dugaan, entahlah. Kita tanya saja Anda. Silakan berpendapat. Oh ya, kesimpulan atau dugaan demikian itu diungkapkan sebuah penelitian.Survei yang dilakukan di Jerman yang menemukan bahwa para wanita yang terdidik dikatakan kerapkali mengalami masalah dengan kehidupan seksualnya. Mereka sulit sekali merasa puas. 
Dalam penelitian ini, sekitar 62 persen wanita yang telah menyelesaikan pendidikannya hingga tingkat tinggi, setingkat S1 atau bahkan S2, seringkali merasa sulit mengalami orgasme.
Hanya 38 persen wanita yang berpendidikan rendah mengalami kesulitan serupa. Penelitian ini dilakukan oleh sebuah media gaya hidup online di Jerman yang mengobservasi sekitar 2000 wanita usia antara 18 hingga 49 tahun.
Masak sih, cewek yang pintar susah mendapatkan orgasme? (maaf, pertanyaan tidak bermutu ya? Tapi saya memang tidak tahu, maka silakan teman-teman beropini).